Breaking

Bangun Ribuan Jembatan, PUPR Tak Ingin Ada Anak Sekolah seperti Indiana Jones

Bangun Ribuan Jembatan, PUPR Tak Ingin Ada Anak Sekolah seperti Indiana Jones
Sebanyak 164 jembatan gantung dan pada 2019 ini direncanakan bakal ada 166 jembatan baru lagi yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air.

Jembatan gantung yang menghubungkan antar desa sangat dibutuhkan masyarakat. Ini terutama untuk menggantikan jembatan berinfrastruktur minim atau yang kerap disebut sebagai Jembatan Indiana Jones.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan Sebagai contoh, dia menerangkan, dua jembatan gantung yang dibangun di Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur pada 2018 lalu telah rampung dikerjakan oleh Kementerian PUPR melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VIII Jawa Timur-Bali.

Jembatan gantung tersebut yakni Banjarsari II dan Kendungbendo. Keduanya dibangun menggantikan jembatan antar-desa yang hanyut diterjang banjir besar yang terjadi pada 28 Desember 2017.

Adapun Jembatan Gantung Banjarsari II dan Kendungbendo dibangun dengan panjang masing-masing 120 meter dan lebar 1,8 meter. Pembangunan kedua jembatan dilakukan dalam satu paket kontrak dengan total biaya sebesar Rp 6,08 miliar yang bersumber pada APBN 2018.

Masa konstruksi dimulai sejak Agustus 2018 dan rampung pada Desember 2018 dengan kontraktor PT Cahaya Agung Perdana Karya. Konstruksi yang digunakan tipe rigid dan hanya dapat dilalui pejalan kaki dan kendaraan roda dua.

Keberadaan jembatan gantung sangat membantu masyarakat karena geografis wilayah Indonesia yang memiliki banyak gunung, lembah dan sungai. Secara fisik, kondisi ini terkadang memisahkan lokasi tempat tinggal penduduk dengan berbagai fasilitas pelayanan publik seperti sekolah, pasar, dan kantor pemerintahan.

"Penyusunan jembatan gantung dirancang secara matang, mulai dari pemilihan material hingga penerapan teknologi yang berkualitas. Penggunaan material jembatan gantung seperti baja, kabel, dan baut juga menggunakan produk lokal dalam negeri yang dibuat di Indonesia," jelas Menteri Basuki.

No comments:

Powered by Blogger.