Breaking

Sri Mulyani: Tingkatkan Ekspor Batasi Impor Untuk Atasi Masalah Defisit Transaksi Berjalan

Tingkatkan Ekspor Batasi Impor Untuk Atasi Masalah Defisit Transaksi Berjalan

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan untuk dapat mengatasi masalah defisit transaksi berjalan dilakukan dengan dua cara yaitu meningkatkan ekspor dan mengendalikan impor baik untuk barang maupun jasa.

Instrumen dan pemihakan untuk mendorong ekspor perlu didorong karena menyangkut daya saing perekonomian Indonesia. Beberapa kebijakan itu diantaranya adalah seperti kebijakan memperbaiki pendidikan, termasuk memberikan bea siswa hingga pendidikan tinggi.

Kemudian, kebijakan membangun infrastruktur listrik dan untuk konektivitas, kebijakan mempermudah dan menyederhanakan perijinan melalui One Single submission (OSS), serta perbaikan layanan kepabeanan adalah untuk menunjang daya saing dunia usaha dan ekspor.

Untuk mengendalikan impor, dia mengatakan bahwa hal ini telah dan akan dilakukan. Pengenaan pajak impor pada barang-barang tertentu, penggunaan biodisel B20 sebagai pengganti solar (untuk membatasi impor bahan bakar minyak), peningkatan penggunaan komponen lokal pada proyek infrastruktur.

Pemerintah juga melakukan seleksi terhadap proyek-proyek infrastruktur yang memiliki konten impor besar untuk ditunda. Dan juga menggunakan insentif fiskal seperti tax holiday dan tax allowance untuk investasi dalam negeri dalam rangka membangun instrumen hulu dan substitusi impor.

“Upaya pengendalian impor dilakukan segera karena pertumbuhan impor meningkat pesat diatas 13,4% hingga Agustus 2018 diatas pertumbuhan ekspor yang hanya tumbuh diatas 5% pada periode yang sama,” jelasnya.

Sedangkan kebijakan untuk meningkatkan arus modal dan keuangan masuk ke Indonesia dilakukan dengan meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia. Oleh karenanya, peringkat ease of doing business yang makin baik dan kebijakan yang terus meningkatkan daya saing Indonesia harus terus ditingkatkan.

"Hasil kebijakan ini tidak serta merta, apalagi pada saat kondisi likuiditas global yang makin ketat. Namun kebijakan yang bersifat memperbaiki fundamental perekonomian Indonesia harus terus dilakukan yang akan membangun reputasi Indoensia sebagai perekonomian yang sehat dan kompetitif, meskipun hasilnya mungkin baru dinikmati pada periode mendatang," jelas Sri MUlyani.

"Inilah komitmen kenegarawan dan kecintaan bagi negara di luar kepentingan sesaat," dia menandaskan.

No comments:

Powered by Blogger.