Breaking

Chatib Basri Angkat Bicara Soal Ekonomi Indonesia

Chatib Basri Angkat Bicara Soal Ekonomi Indonesia


Masih dalam ingatan segar anak bangsa, Indonesia pernah diterpa krisis ekonomi di tahun 1997-1998. Pemerintah kala itu tak memprediksikan akan adanya dentuman sektor ekonomi yang melumpuhkan semua lini, seperti yang pernah di analisa oleh beberapa ekonom.

Krisis yang telah merembet kepada krisis multi dimensi tersebut menjadi catatan sejarah bagi bangsa Indonesia untuk menapaki babak baru yaitu era reformasi.

Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) ke-28 Muhammad Chatib Basri melalui linimasa twitternya @ChatibBasri menuliskan bahwa dia sering ditanya mengenai kondisi ekonomi Indonesia apakah sedang menuju krisis atau tidak.

Pertanyaan yg sering saya terima beberapa hari terakhir apakah Indonesia akan mengalami krisis 1998? Didalam chapter 2 buku ini, saya mencoba membandingkan mengapa kita survived th 2008 dan 2013, tapi tidak tahun 1998, tulisnya saat dipantau Akurat.co, Jumat (7/9).

Chatib mengakui, tentu saja tulisannya sangat bisa salah, namun dalam pengamatannya, ia tak melihat bahwa Indonesia akan kembali ke krisis 1998. Chatib katakan bahwa yang terjadi pada saat ini sebenarnya adalah kembalinya dunia kepada situasi normal yang baru (new normal).

Dalam 10 tahun terakhir ini, cuit Chatib, dunia berada dalam keadaan abnormal akibat The Fed Amerika Serikat (AS) dengan menerapkan kebijakan bunga rendahnya. Menurutnya, situasi dunia yang normal adalah situasi sebelum QE 2009, dimana The Fed Fund rate sekitar kisaran 3.5 persen.
Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menambahkan cuitannya, Menguatnya perekonomian AS dan meningkatnya defisit anggaran di AS mendorong Fed untuk melakukan normalisasi. Akibatnya negara yg current account deficitnya dibiayai oleh investasi portfolio (utamanya) terkena.

Dia menegaskan bahwa yang akan Indonesia, hadapi dalam beberapa waktu kedepan, adalah nilai tukar yang volatile, tertekan, tingkat bunga yang naik, inflasi yang naik. Ini berakibat pada perlambatan ekonomi 2019 dan 2020. Dalam linimasanya, Chatib mengundnag tanya, Apakah krisis 1998 akan terulang? Rasanya tidak.

Ia menegaskan bahwa, alasannya kita menganut flexibile exchange rate sekarang, sehingga orang sudah mengerti bagaimana mengantisipasi pelemahan rupiah. Selain itu kondisi perbankan dan politik lebih baik dari 1998.

Chatib menambahkan, bahwa yang cukup penting adalah rasio dari short term external debt relatif kecil jika dibandingkan pada situasi perekonomian tahun 1998. Karena kondisi defisit anggaran juga relatif kecil, pun dengan inflasi.

Namun ia juga kembali bertanya apakah situasi bisa memburuk. Dan dia mengatakan bahwa risiko itu tentu saja ada bila respon kebijakan salah, pemerintah panik dan mengeluarkan kebijakan yg justru membuat pasar panik.

Lesson learned pada tahun 1998, 2008 dan 2013 bisa dilihat dalam chapter 2 buku yg baru saja terbit itu. Disitu dijelaskan mengapa kita mampu menghadapi GFC 2008 dan Taper Tantrum 2013, tapi gagal di tahun 1998. Dan saat ini saya kira kita bisa belajar dari pengalaman2 tersebut.

No comments:

Powered by Blogger.