Breaking

PSI Beberkan Fakta Seputar Oposisi



Sudah sejak lama pihak oposisi selalu menyerang Jokowi dengan isu ekonomi. Ditambah dengan penunjukan Sandiaga Uno yang mempunyai latar belakang pengusaha. Di sisi lain, dinamika politik dan ekonomi yang terjadi di luar negeri pun sedikit banyak akan berpengaruh terhadap konsidi ekonomi dalam negeri.
Kondisi ekonomi pemerintahan Jokowi dianggap sejumlah kalangan lebih baik bahkan jika dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya.
Upaya mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial sudah terlihat dalam program Nawacita. Sejumlah infrastruktur yang menjadi hal paling menonjol ini harus dipertahankan dan dikembangkan.
Dengan ditariknya Maaruf Amin sebagai cawapres, banyak hal yang dapat dilakukan Ma'ruf dalam bidang ekonomi nantinya. Lebih jauh, corak ekonomi yang dikembangkan pun sangat mungkin akan berbasis pada nilai dan kultur Islam salah satunya dengan menjadikan masjid sebagai pusat ekonomi.
Corak ekonomi berbasis Islam, akan lebih mudah diterima karena mayoritas penduduk Indonesia pun berlatar belakang agama Islam. Lalu, program berbasis pesantren dapat didorong agar menghasilkan produk yang bisa dijual. Dengan demikian, pesantren bisa lebih berdaya.
Tudingan kubu prabowo bahwa saat ini kondisi ekononomi nasional terus merosot dengan mengacu pada kenaikan nilai dolar Amerika Serikat (AS) kurang tepat jika ingin 'menjatuhkan' Jokowi. Sebab, jika dibandingkan dengan rezim sebelumnya presentase kenaikan nilai mata uang dolar AS lebih tinggi.
Ketika SBY menjabat presiden nilai tukar dolar AS sempat ditahan di bawah Rp10 ribu, namun di ujung masa jabatannya nilai tukar dolar AS naik sekitar Rp12 ribu. Sedangkan di masa pemerintahan Jokowi dimulai dengan nilai tukar sekitar Rp12 ribu dan saat ini diangka sekitar Rp14 ribu.
Kenaikan dollar di era SBY lebih tinggi dari pada era Jokowi. Kemudian, jika ditinjau dari sudut pandang daya beli masyarakat pun selama kepemimpinan Jokowi tidak ada penurunan. Tetapi justru mengalami peningkatan.
Faktanya, daya beli Indonesia semenjak Jokowi menjabat rata-rata naiknya sekitar 5 persen pertahun. Hal tersebut diungkap oleh Badan Pusat Statistik (BPS). BPS menyebut konsumsi masyarakat tetap tumbuh pada kuartal I 2017, meskipun tipis. Sepanjang kuartal II, konsumsi rumah tangga masih tumbuh 4,95 persen secara tahunan.
Misalnya, konsumsi rumah tangga untuk sektor makanan dan minuman (mamin) selain restoran pada kuartal II masih tumbuh 5,24 persen atau lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2017 sebesar 5,21 persen.
Kemudian, pertumbuhan sektor restoran dan hotel, pada April-Juni juga naik dari sebelumnya 5,43 persen menjadi sebesar 5,87 persen. Hal ini mengindikasikan peralihan pola konsumsi masyarakat. Secara presentase pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat, namun secara nominal meningkat. Ini menunjukan angka yang stabil. Data ini bagi para kubu oposisi tidak berarti.

No comments:

Powered by Blogger.