Breaking

Defisit Menyempit ! Bukti Komitmen Jokowi



Pemerintah menargetkan defisit APBN 2019 dapat menurun menjadi 1,84 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Hal diyakini akan tercapai dengan melihat tren defisit APBN yang semakin kecil dari 2,59 persen terhadap PDB pada 2015 menjadi sekitar 2,12 persen pada 2018.
"Pada 2019 defisit APBN akan diturunkan menjadi 1,84 persen," kata Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dalam pidato RAPBN 2019 di Komplek Parlementer, Senayan, Jakarta, Kamis, 16 Agustus 2018.
Jokowi menjelaskan, pembiayaan APBN 2019 akan dilaksanakan secara akuntabel. Defisit anggaran dan rasio utang terhadap PDB akan tetap dikendalikan dalam batas aman, sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
"Pengelolaan utang lebih berhati-hati untuk mengurangi risiko dan biaya, serta mengarahkan penggunaannya secara lebih produktif," ujar dia.
Jokowi menyebutkan, sektor yang dianggap produktif tersebut diantaranya program pembangunan bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perlindungan sosial, serta pembangunan daerah.
Menurutnya, perbaikan kebijakan fiskal juga ditunjukkan dengan defisit keseimbangan primer yang pada 2015 mencapai Rp142,5 triliun turun menjadi hanya Rp64,8 triliun pada 2018, dan terus diarahkan lebih rendah lagi menuju defisit Rp21,7 triliun pada 2019.
"Dengan arah kebijakan fiskal itu, diharapkan kita akan dapat mencapai kondisi keseimbangan primer yang seimbang atau surplus dalam waktu dekat," imbuh dia.
Selain penurunan defisit anggaran, untuk mengendalikan tambahan utang, Jokowi melanjutkan, pemerintah juga melakukan pengurangan pembiayaan anggaran dalam 2019 sebesar 5,4 persen. Langkah pengendalian ini konsisten dengan yang dilakukan di 2018, yang juga mengurangi pembiayaan sekitar 14,3 persen.

No comments:

Powered by Blogger.